Stop Perpecahan yang Bermula dari Hoaks Berantai

Stop Perpecahan yang Bermula dari Hoaks Berantai

Setiap orang selalu memiliki pilihan untuk bersikap hati-hati. Misalnya, ketika menerima pesan atau berita yang tak tahu dari mana sumbernya. Kita yang menentukan sendiri untuk bersikap langsung percaya, menyebarkannya, atau menelaah kebenaran informasi tersebut.

Namun, tak banyak juga yang berpikir secara kritis saat mendapatkan pesan yang memicu emosi. Hal ini yang selalu membuka peluang masuknya hoaks sehingga timbul perpecahan.

Ferdiansyah dan Fitri Nur Aprianingsih, JaWAra Internet Sehat asal Sumatera Selatan tidak tinggal diam memahami masalah yang serupa terjadi di daerahnya. Berawal dari pesan singkat dari ponsel dengan informasi yang dibumbui isu sensitif seperti agama, ras, bahkan isu COVID-19 sekalipun dapat mempengaruhi kehidupan sosial di daerahnya. Termasuk hoaks soal COVID-19 mempengaruhi keputusan orang terdekat mereka untuk tidak melakukan vaksin.

“Pada Pandemi ini pun banyak sekali berita-berita ngawur maupun hoaks yang masuk ke masyarakat terutama melalui media yang mudah di akses seperti aplikasi instant messaging, sehingga untuk mencegah berita tersebut bukan perkara mudah,” ungkap Ferdiansyah.

Mereka berdua menyelenggarakan program  Cyber Ethic, Cyber Crime issue dalam Rangka Pencegahan Hoaks dan Literasi Digital pada 22 Oktober 2021 di Universitas Sjakhyakirti, Palembang, Sumatera Selatan. Kegiatan yang dilakukan secara offline ini menghadirkan 400 peserta yang terdiri atas mahasiswa, pelajar, dan peserta umum.

Peserta diedukasi tentang kejahatan dunia siber, seperti hoaks. Di sini, Ferdiansyah dan Fitri memberikan pemahaman tentang pentingnya bersikap kritis pada informasi apapun yang diterima. Mereka mengingatkan untuk selalu mengecek kebenaran informasi dan memberikan tips cara memvalidasi hoaks. 

Tak hanya itu, peserta juga dibekali tentang pentingnya privasi dan mengamankan data pribadi mulai dari media sosial dan Whatsapp. 

Ferdiansyah dan Fitri melihat, setelah berlangsungnya acara para peserta jadi memahami cara memulihkan akun WhatsApp yang diretas, media sosial yang dihack orang lain, lebih waspada terhadap hoaks, serta tumbuh kesadaran tentang privasi dan perlindungan data pribadi.

Acara ini juga mendapat dukungan dari Rektor Universitas Sjakhyakirti, Prof. Dr. Ir. Faizal Daud, Ms. DInas Kominfo Sumatera Selatan, Polda Sumatera Selatan, Bupati Musi Banyuasin, dan APTIKOM Sumatera Selatan. (ma/mt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *