Naik Boat Tep-tep untuk Literasi Warga Pulo Aceh

Naik Boat Tep-tep untuk Literasi Warga Pulo Aceh

Aceh Besar – Workshop Literasi Digital yang mengangkat tema “Mencerdaskan Masyarakat dari Isu Hoax Covid-19, Vaksin dan Menjaga Keamanan Data Pribadi dalam Dunia Digital Melalui perangkat desa, pemuda setempat dan Komunitas” diselenggarakan di Kabupaten Aceh Besar Kecamatan Pulo Aceh.

Pulo Aceh adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Aceh Besar yang memiliki luas wilayah 90,56 Km persegi, dan memiliki 3 mukim yaitu Pulo Nasi, Pulo Breuh Selatan, dan Pulo Breuh Utara. Yang keseluruhan jumlah penduduk berdasarkan data dari BPS Aceh 2019 berjumlah 4.403 jiwa. Pulo Aceh juga kaya akan wisatanya, di kecematan tersebut terdapat sebuah mercusuar Willem Toren III. Mercusuar tersebuat merupakan salah satu dari tiga mercusuar yang menjadi warisan Belanda. Dan mercusuar ini telah berusia lebih dari satu abad sejak dibangun pada tahun 1875.

Workshop ini bermanfaat agar warga terutama pemuda kampung disana memiliki pemahaman dan keterampilan akan pentingnya literasi digital sehingga dapat lebih bijaksana dalam memilih serta memilah informasi dan kemanan data pribadi di dunia digital untuk diri sendiri dan untuk keluarga serta masyarakat luas. Disamping itu peran dari Pemuda dan Komunitas sangat diperlukan dalam mengedukasi masyarakat Aceh untuk terhindar dari informasi palsu dan bisa memilah yang mana informasi palsu dan informasi benar.

Perjalanan menuju Pulo Breuh kecamatan Pulo Aceh memakan waktu 2 jam menaiki boat tep-tep yang kerap disebut oleh masyarakat setempat. Boat tep-tep dengan Panjang 8,5 m dan lebar 3 m yang sering masyarakat pulo tersebut gunakan untuk menyebrang dari Lampaseh (Banda Aceh) menuju Pulo Breuh dan Pulo Nasi.

Ketika kami dan team untuk mengarungi lautan menuju pulo breuh memakan waktu 3 jam, hal tersebut dikarenakan kondisi laut saat itu sedang tidak bersahabat sehingga memakan waktu lebih lama dari biasanya. Setibanya kami di pulo tersebut kami langsung di sambut oleh pemuda dan warga setempat. Kedatangan kami disana disambut dengan hangat dimana warga setempat juga telah menyediakan ikan bakar untuk kami santap di malam hari Bersama kepala kampung dan pemuda kampung dan komunitas setempat.

Selanjutnya setelah makan malam kita melakukan diskusi serta workshop singkat Bersama warga setempat, warga di pulo tersebut mengeluhkan bahwa semenjak datangnya pandemic mereka menjadi orang yang tidak karuan antara percaya atau tidak dengan adanya virus Covid-19. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali informasi palsu yang mereka terima, informasi asli baru mereka rasakan setelah berita-berita muncul dan banyaknya korban di televisi dan sosial media.

 Namun seiring perjalanan waktu bahkan sudah memasuki 2 tahun setengah Covid-19 ini berdampingan. Permasalahan kembali timbul ketika dilakukan gebrakan vaksin untuk virus Covid-19. Bahkan Mulyadi pemuda kampung tersebut menanyakan kepada kami “apakah benar setelah divaksin, uang coin dapat menempel di titik suntikan vaksin?” setelah mendengar pernyataan dari pemuda tersebut, kami langsung menjelaskan bagaimana cara memverifikasikan informasi tersebut. Hal yang palling simple kami jelaskan ke warga ialah dengan periksa informasi melaluichat bot whatsapp.

Selanjutnya juga kita menjelaskan kepada warga bagaimana cara menjaga privasi untuk diri sendiri dan keluarga. Setelah kita menjelaskan dengan Panjang lebar terkait menjaga privasi ternyata warga baru memahami bahwa selama ini data ktp dan kegiatan sosial media yang berlebihan itu tidak baik untuk diri sendiri. Ada salah seorang warga yang mendapatkan chat whatsapp yang menawarkan hadiah puluhan juga, namun cara mendapatkan hadiah tersebut korban harus memberikan kode OTP kepada pelaku. Karena belum memiliki pemahaman terkait literasi digital, sehingga korban setelah menerima kode OTP, maka langsung diberikan ke pelaku studi kasus pada kejadian ini ialah membajak telegram korban dengan menginvite teman-teman korban kedalam sebuah grup/channel investasi ilegal. Saat ditunggu beberapa hari hadiah yang dijanjikan tidak ada, maka korban menanyakan kepada orang yang chat melalui whastapp, namun orang tersebut tidak ada respon dan korban baru sadar ketika ada temannya menanyakan grup/channel tersebut. Setelah berakhirnya acara pada hari itu, kami juga saling bertukar nomor handphone untuk menjalin silaturahmi terutama apabila warga pulo ada yang ingin ditanyakan mengenai literasi digital dapat langsung menanyakan kepada kami yang InsyaAllah kami juga bisa langsung terkoneksi dengan ICT Watch yang dapat memberikan informasi yang credible.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *