Menembus Kabut Literasi di Aceh Utara

Menembus Kabut Literasi di Aceh Utara

Aceh Utara 21 Oktober 2021 – Kabupaten Aceh Utara tidak terlepas dengan sejarah perkembangan Kerajaan Islam di pesisir Sumatera yaitu “Samudera Pasai” yang terletak di Kecamatan Samudera Geudong yang merupakan tempat pertama kehadiran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh mengalami pasang surut, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki, hingga masa penjajahan Belanda.

perjalanan kami dari kota Banda Aceh menuju Aceh Utara membutuhkan waktu 5-6 jam menggunakan kendaraan pribadi. perjalanan yang memakan waktu 1/4 hari ini tergolong panjang, namun dari perjalanan tersebut kami melewati 5 kabupaten . Meskipun lelah dan lama saat perjalanan, semua itu terbayarkan dengan pemandangan Gunung Salak yang disambut dengan kabut dinginnya setelah kegiatan Workshop selesai.

Workshop ini di hadiri oleh 24 peserta yang didominasi oleh ibu-ibu setempat dan beberapa anak muda yang tentunya sering menggunakan aplikasi Whatsapp untuk komunikasi sehari-hari. pemakaian aplikasi ini tentunya banyak sekali informasi-informasi baik yang positif maupun negatif yang di dapati oleh warga setempat. perlunya literasi digital masuk-masuk ke gampong (sebutan desa di provinsi Aceh) agar masyarakat terbuka akan pentingnya “saring dulu sebelum Sharing”.

Workshop yang disampaikan oleh Reza Aulia yang juga merupakan JaWAra Internet Sehat Aceh mengangkat tema “Pentingnya Tahu Hoaks dan verifikasi Hoaks” ini berhasil membuat peserta paham bagaimana cara memverifiaksi yang mana berita hoaks dan yang mana misinformasi. Reza juga menegaskan kepada peserta bahwa ketika seseorang menyebarkan berita bohong dan merugikan orang lain maka akan dikenakan sanksi pidana.

peserta yang hadir juga merespon dari paparan yang dibawakan oleh Reza dengan menanyakan “Bagaimana dengan berita yang sudah di share sebelum mengetahui hal ini?” Reza juga menjawab bahwa jika sudah terlanjur dan masih ada jejak digitalnya, maka dihapus saja terlebih dahulu, namun reza juga menjelaskan bahwa bukan berarti sudah dihapus beritanya bisa aman, karena apabila salah seorang masih menyimpan bukti tersebut maka masih bisa di tindak lanjuti.

Reza juga melakukan praktik bagaimana cara cek fakta dengan menggunakan aplikasi Whatsapp yang ditampilkan dilayar infokus. dan peserta yang hadir mengikuti langkah demi langkah bagaimana cara memverifikasi informasi dengan menggunakan aplikasi Chatbot Whatsapp.

Workshop selanjutnya disampaikan oleh Ketua Relawan TIK Aceh yang sering disapa dengan istilah “bang Maul”. Bang Maul membawa workshop dengan tema “Praktik Privasi dan Sekuriti Digital” dimana beliau menyampaikan bahwa sesuatu yang mudah atau praktis itu belum tentu aman. Bang Maul juga mengingatkan kepada peserta gantilah password sosmed secara berkala, beliau juga mengilustrasikan bahwa password sama halnya dengan celana dalam. apabila celana dalam digunakan selama berhari-hari tentunya tidak nyaman, password demikian pula.

selanjutnya bang maul juga mengingatkan kepada peserta jangan terlalu sering posting urusan pribadi, karena hal tersebut dapat merugikan diri sendiri. peserta yang hadir juga menanyakan kenapa dapat merugi diri sendiri? dan bang maul menjelaskan dengan ilustrasi singkatnya ” jika ibu posting berada di takengon liburan selama 7 hari, maka orang yang melihat (mengincar) dan tau celah bagaimana masuk rumah ibu, tentunya sangat mudah dia melakukan hal jahatnya tersebut. penjahat dapat dengan mudah menggunakan truck untuk mengangkat seluruh isi yang ada dirumah dan apabila ada tetangga yang tanya, maka penjahat hanya menjawab mau pindah rumah”.

Workshop yang berlangsung selama 3 jam ini pun berakhir dengan sesi tanya jawab dan pembagian hadiah kepada para peserta yang beruntung. antusias para peserta dapat dilihat dengan membawa anak mereka ke lokasi acara. dan untuk yang hadir dan bertanya cukup banyak, namun karena waktu yang terlalu singkat sehingga acara tidak bisa dilanjutkan. Namun Panitia membuat sedikit grup kecil pada aplikasi Whatsapp untuk diskusi selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *