Web Analytics Made Easy - Statcounter
Literasi Digital di Desa Tak Bersinyal - jaWAra Internet Sehat

Wahyu Oktafialni, JaWAra Internet Sehat Riau, bersama dengan tim Relawan TIK Riau mengunjungi Desa Kotolamo di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau untuk memberikan workshop literasi digital. Menariknya, desa ini hampir tidak memiliki jaringan komunikasi. Namun, warganya tetap memiliki gawai untuk mengakses informasi.

Wahyu melihat situasi yang unik ini bukan sebagai tantangan melainkan kesempatan bagus yang tidak boleh dilewatkan. Memulai program literasi digital di Desa Kotolamo bisa dibilang belum terlambat atau terlalu jauh untuk dikejar. 

Maka, dimulailah perjalanan panjang menuju desa yang berada di sekitar Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (Rimbang Baling) itu dengan bantuan dari teman-teman di Rumah Budaya Sikukeluang, yaitu Om Heri dan Bang Acong selaku narahubung dengan pihak desa.

Perjalanan yang dimulai dari Pekanbaru ini menempuh waktu lebih dari lima jam. Setelah berganti moda transportasi di Pelabuhan Gema dengan sampan kecil bertenaga mesin atau Piau, tim JaWAra Internet Sehat akhirnya tiba juga di Desa Kotolamo.

Sehabis istirahat sejenak dari teriknya cuaca, tim mulai bersiap untuk melihat tempat yang akan digunakan untuk nonton bareng (nobar) materi literasi digital bersama warga desa. Lapangan voli yang dipilih menjadi lokasi acara ternyata menjadi tempat warga biasa berkumpul.

Setengah tim pun mempersiapkan tempat sementara setengahnya lagi keliling desa untuk menyapa warga sembari mengundang dan memberikan informasi perihal acara yang akan diadakan malam harinya.

Tidak sulit mengumpulkan warga desa untuk hadir di acara nobar karena ternyata banyak yang sudah meninggalkan desa demi mencari penghidupan di kota sehingga banyak dijumpai rumah kosong di desa ini. Setelah bertemu dengan kepala desa, tim kembali melanjutkan persiapan dengan dibantu oleh warga.

Hujan yang turun tidak mematahkan semangat Wahyu dan rekan-rekan tim JaWAra Internet Sehat untuk mencairkan suasana kantuk akibat hujan walau sebagian warga sudah ada yang pulang. Acara pun dimulai dengan pemutaran video pertama.

Video “ASADESSA”, ingin menunjukkan bahwa internet membuka peluang besar bagi penggunanya, dan desa-desa lain telah membuktikannya. Di tengah video, melihat warga yang masih terlihat mengantuk, moderator dan narasumber pun membuka sesi tanya jawab dengan warga. 

Tidak salah juga tim membawa hadiah-hadiah dari pekanbaru untuk meramaikan segmen ini sehingga suasana menjadi cair dan sumringah serta tawa dapat tercipta. Walau awalnya hening dan malu-malu, warga akhirnya mulai berani menjawab dan mengajukan pertanyaan. 

Warga makin antusias ketika narasumber membahas penipuan melalui sms dengan cara mengirimkan link hingga modus penipuan melalui telpon. Warga juga mendengarkan dengan seksama penjelasan yang diberikan terkait modus-modus tersebut.

Setelah itu dibahas pula isu hoaks dan pemutaran video Dalang Pelo yang berhasil menghibur serta mengundang gelak tawa para hadirin, khususnya anak-anak. Seusai acara yang dihadiri oleh 120 orang itu, kepala desa juga bertanya perihal prosedur masuknya internet ke desa. Rupanya beliau menjadi tertarik setelah menonton film “ASADESSA” sebelumnya. 

Memang Desa ini hampir tidak memiliki akses komunikasi. Warga harus pergi ke “Bukit Sinyal” untuk mendapatkan sinyal jaringan komunikasi. 

Mengingat 90% Desa Kotolamo belum ada sinyal, kepala desa juga mendukung agar acara ini dapat dilakukan lagi di desanya. Menurutnya acara seperti ini dapat membantu para pelajar SD maupun SMP untuk belajar teknologi, informasi, dan komunikasi dengan lebih baik lagi dan memanfaatkan ilmu mereka dengan cara positif. Acara pun ditutup dengan ucapan terima kasih dari Bapak Wilta Wantri selaku Kepala Desa Kotolamo.

Keesokan harinya, JaWAra Internet Sehat dan tim menyempatkan waktu untuk mengunjungi SMPN 04 Kotolamo yang berisikan kurang lebih 20 orang siswa. Anak-anak tampak semangat mengikuti kegiatan dari tim. Ternyata sudah lama tidak ada yang mengajarkan pelajaran TIK di sana, semenjak guru TIK meninggal dunia. 

Melalui kegiatan ini, Wahyu dan seluruh tim berharap semoga internet bisa lekas masuk ke Desa Kotolamo dan bisa dipertemukan kembali dengan desa ini di program literasi digital selanjutnya. (ses)