Diinisiasi oleh ICT Watch, WhatsApp, dan Kementerian Kominfo, anak muda penggiat digital dari berbagai daerah bergerak bersama, menyusun dan menjalankan program edukasi literasi digital untuk menyentuh berbagai lapisan masyarakat di daerahnya dalam program yang disebut JaWAra Internet Sehat.

Program ini digerakkan oleh 60 anak muda dari 26 provinsi dan  73 kabupaten/kota, dan berhasil menjangkau lebih dari 20 ribu masyarakat dari berbagai kalangan .

Bukan hanya kegiatan workshop maupun seminar secara daring, para JaWAra ini juga mendatangi langsung pelosok desa. Mereka melintasi daratan berjam-jam, mengarungi lautan, menyeberang dari pulau ke pulau, menemui masyarakat, mengajak mereka untuk belajar bagaimana melindungi data pribadi dan cerdas dalam menyikapi informasi. Lebih dari itu, jaWAra InternetSehat juga berkolaborasi dengan seniman lokal, pemuka agama, untuk memasukkan muatan literasi digital dalam tradisi kesenian maupun kegiatan keagamaan.

Perjuangan jaWAra InternetSehat selama lebih dari 4 bulan ini, ditutup dengan gelaran JaWAra Internet Sehat Wrap Up 2021. Hadir dalam acara ini, Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kemkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan yang amat mengapresiasi gerakan lokal literasi digital yang berdampak luas dan selaras dengan program gerakan nasional literasi digital yang dicanangkan Presiden Jokowi.  

Penanggung jawab program ini, Indriyatno Banyumurti dari ICT Watch, menyampaikan rasa bangganya dengan apa yang telah dilakukan oleh para JaWAra Internet Sehat. “Ini adalah sebuah milestone gerakan literasi digital yang melibatkan lebih banyak pihak dalam berkolaborasi. Ini adalah ide yang amat kecil namun bisa dibuat jauh lebih besar oleh teman-teman jaWAra Internet Sehat.” tambahnya.

Pada acara ini sekaligus ICT Watch, WhatsApp, dan Kementerian Kominfo memberikan penghargaan kepada Jawara terpilih. Ada 3 kategori program dan 1 kategori spesial.

Kategori pertama adalah Program Paling Kreatif. Tiga provinsi yang berhasil masuk nominasi adalah Bali, Sulawesi Tengah, dan Jakarta Raya (Bekasi). Dan yang memenangkan kategori ini adalah jaWAra Internet Sehat dari Provinsi Sulawesi Tengah. Kreativitas menciptakan card game literasi digital dinilai amat membantu proses literasi di masyarakat. Program lain yang digawangi oleh Andi Rizky Hardiansyah adalah Tadulako Hoax Buster, Literasi Digital dalam Dakwah, dan Pelatihan Guru untuk Sekolah Bebas Hoaks.

Kategori kedua dalam penghargaan jaWAra Internet Sehat adalah untuk program yang memiliki Jangkauan Peserta Terbanyak. Nominator dari kategori ini adalah Provinsi Aceh, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Dengan berbagai program yang diselenggarakan, Provinsi Nusa Tenggara Barat meraih penghargaan pada kategori ini.

jaWAra Internet Sehat dari NTB, Subhan Azharullah dan Nurliya, menggelar berbagai kegiatan seperti, Roadshow Tode Samawa Makin Cakap Digital yang menyasar 10 forum anak di 10 lokasi, dan dengan melibatkan pemerintah setempat. Mereka juga melakukan edukasi kepada Kelompok Sadar Wisata di kecamatan paling Selatan dari Kabupaten Sumbawa. Program dari Provinsi NTB ini sangat inklusif dan menjangkau desa-desa terluar di 3 kabupaten NTB dengan menggunakan transportasi darat dan laut. Program lain yang digagas oleh Subhan dan Nurliya, adalah Wawo Bima Yuks Tangkal Hoaks, yang diselenggarakan di Kecamatan Wawo, sebuah daerah perbatasan antara NTB dan NTT yang amat jarang tersentuh kegiatan literasi digital. Selain itu jaWAra Internet Sehat NTB juga membuat program Sakeco Literasi Digital, sebuah edukasi literasi yang melibatkan seniman lokal dengan menciptakan syair khas Tau Samawa berisi pesan-pesan literasi digital.

Merespon penghargaan yang diraih oleh 2 orang anak muda dari provinsinya, Dr. Najamuddin Amy, Kepala Diskominfo NTB, memberikan testimoni untuk JaWAra Internet Sehat jawara internetsehat dari NTB. “Kami merasakan kehadiran Subhan dan Lia (Jawara InternetSehat) di Provinsi Nusa Tenggara Barat amat membantu program pemerintah hingga menjangkau kampung-kampung yang paling ujung. Program mereka bukan sekadar bermanfaat tetapi menyentuh langsung kesadaran masyarakat karena melakukan pendekatan yang ramah secara kultural.” ungkapnya.

Kategori ketiga adalah program dengan Kampanye Daring Terbaik. Provinsi NTB, Jawa Barat, dan Bengkulu menjadi nominator dalam kategori ini. Muncul sebagai peraih kategori ini adalah jaWAra Internet Sehat Provinsi Jawa Barat yang dinilai terbaik dalam mengoptimalisasi kanal youtube dan instagram.

Penghargaan Spesial juga diberikan untuk program Jawara Internet Sehat 2021 yang memanfaatkan budaya lokal sebagai media edukasi literasi digital. 2 jaWara yang yang mendapatkan penghargaan ini adalah dari Provinsi Lampung, yaitu Catur Agus Ariyanto dengan Pagelaran Wayang Literasi dan dari Provinsi Riau, Wahyu Ari Sandi, untuk Syair Irama Melalak Lindungi Data Pribadi.

Devie Rahmawati, Tenaga Ahli Menteri Kominfo memberikan apresiasi untuk jaWAra Internet Sehat. Beliau menyampaikan, “Yang paling unik dari jawara ini adalah kekuatan para jawara untuk merangkul komunikasi lokal. Mereka paham Indonesia memiliki kekayaan budaya luar biasa, memiliki keragaman masyarakat, dan mereka mampu melakukan penetrasi pengetahuan tepat sasaran dengan bahasa lokal. Apa yang mereka lakukan benar-benar menyentuh pusat nurani dari masyarakat yang mereka literasi.”

Pada sesi graduation JaWAra Internet Sehat 2021, Esther Samboh, Manajer Kebijakan Publik WhatsApp Indonesia, menyatakan bahwa 60 jawara dari 26 provinsi ini telah lulus secara membanggakan. 

“jaWAra Internet Sehat adalah anak muda indonesia sebagai digital native yang melek teknologi dan punya sensitivitas dalam memahami isu di ranah lokal. Kekuatan dan kelebihan anak muda bisa menjadi jembatan efektif untuk menjangkau berbagai segmen di masyarakat. Karena Indonesia besar dan luas, kaya budaya dan bergantung pada kearifan lokal. Dan kunci sukses program jaWAra Iinternet Sehat adalah kolaborasi, kerja sama berbagai pihak.” tutup Esther Samboh.

Program ini direncanakan akan terus dilanjutkan di 2022, dengan menggandeng lebih banyak anak muda dari berbagai daerah, serta kolaborasi lebih banyak lagi dengan para pemangku kepentingan seperti komunitas lokal dan pemerintah daerah. (mt/ib)