BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN –  Yayasan Titik Fokus Karya dan  Jawara Internet Sehat 2022 melaksanakan webiner nasional  literasi digital dengan bertemakan “internet sehat, mahasiswa juara,” pada Senin (22/08/2022) kemarin.

Webiner tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Antasari Banjarmasin,  Ketua  Yayasan Titik Fokus Karya, Co-Founder  Yayasan Titik Fokus Karya, Kadiskominfotik Kota Banjarmasin serta puluhan mahasiswa berbagai universitas, Selasa (23/08/2022).

Irfan Islamy selaku Co-Founder  Yayasan Titik Fokus Karya mengungkapkan, hasil laporan Kementerian Kominfo RI menyebutkan bahwa status Literasi Digital Indonesia pada tahun 2021 berada pada ketegori sedang, yaitu 3,49 dari skala 5,00.

Hal itu menunjukkan bahwa tingkat literasi digital netizen Indonesia masih belum ideal. 

“Peningkatan  literasi digital di tengah pesat dan cepatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi itu menjadi hal penting yang harus segera dilakukan,” imbuhnya.

Ridha selaku  Jawara Internet Sehat 2022 juga mengiyakan, menurutnya, betapa pentingnya peningkatan  literasi digital, utamanya dikalangan mahasiswa selaku generasi muda.

“Pentingnya tata krama atau netiket dalam menggunakan media digital,” tandasnya.

Menurut Ridha, ruang virtual sebagai tempat bertemu, berinteraksi dan berkolaborasi dengan orang-orang dari berbagai karakter, suku, agama dan budaya yang berbeda menghendaki suatu nilai atau aturan yang berlaku global. 

“Pepatah lama kan menyebutkan dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Begitu juga di era digital, di ruang digital. Supaya semua netizen merasa aman dan nyaman, maka menggunakan media digital secara beretika menjadi urgen,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ridha menegaskan, di Indonessia ada UU ITE yang mengatur tentang larangan prpduksi dan distribusi konten negatif di media digital.

“Jika kita tidak menggunakan media digital secara beretika maka bisa jadi kita akan menanggung konsekuensi secara hukum karena bertentangan dengan hukum positif yang berlaku,” kata dia.

Selanjutnya Dr. Irfan Noor Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan UIN Antasari Banjarmasin menambahkan, Generasi Milenial dan Z merupakan generasi  yang terbuka dalam menerima berbagai informasi, pandangan dan pola pikir, sehingga menyebabkan mereka mudah menerima keragaman dan perbedaan pandangan akan suatu hal.

“Dampaknya mereka menjadi sulit mendefinisikan dirinya sendiri dan kadang memiliki daya tahan yang kurang memadai untuk menghadapi gempuran beragam budaya global,” ujarnya. 

Lebih lanjut menurut Irfan Noor, dampak perkembangan TIK seperti digitalisasi dunia kerja, ekonomi digital dan transaksi digital menjadi tantangan yang tidak selalu mudah bagi generasi digital. Oleh karena itu, literasi digital menjadi hal urgen bagi generasi muda.

Windiasti Kartika, Kadiskominfotik Kota Banjarmasin mengatakan, pentingnya menghindari informasi hoaks,  informasi hoaks merupakan hal yang sangat berbahaya, “utamanya di era informasi yang melimpah ruah,” pungkasnya.

Windiasti mengatakan, penyebarluasan informasi hoaks tersebut selain dapat menikmbulkan konsekuensi hukum yang bertentangan dengan UU ITE, juga berdampak dalam keharmonisan kehidupan di era digital ini. Karena itulah menurutny informasi yang terima harus disaring terlebih dahulu sebelum di sebarluaskan. 

“Teliti dulu dengan seksama, jangan langsung asal share”, bebernya. (Banjarmasinpost.co.id/Mia Maulidya)